

“Atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa dan didorongkan dengan keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaannya” - Alinea ketiga pembukaan Undang Undang Dasar’45.
Kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan setiap manusia pasti terdorong untuk hidup merdeka. Perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia yang kita nikmati sekarang inipun lahir karena didorong oleh keinginan luhur setiap anak bangsa. Kemerdekaan yang terpendam selama tiga setengah abad akibat koloni Belanda dan penjajahan Jepang selama tiga setengah tahun akhirnya dapat diraih oleh bangsa Indonesia.
Namaku Supriyadi (2009, Replique Production) menceritakan tentang kisah perjuangan anak-anak bangsa yang didorong oleh keinginan luhur melihat tanah air Indonesia merdeka. Cerita semi-fiksi yang diinspirasikan dari kisah nyata perjuangan pemimpin pemberontakan tentara PETA (PEmbela Tanah Air) di Blitar ini kembali membangkitkan rasa nasionalisme bagi bangsa Indonesia yang hidup di masa post-kemerdekaan dan menceritakan tentang arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Diawali dengan sikap skeptis seorang Supriyadi (Daniel Pasaribu) muda yang kecewa melihat keadaan tanah airnya ditindas oleh bangsa Jepang setelah pasukan Belanda ‘mundur’ dari Indonesia. Keadaan rakyat yang hidup menderita dan melarat – sampai-sampai tidak jarang dari mereka yang terpaksa mencuri untuk sesuap nasi, kemerdekaan itu seolah-olah tampak seperti sebuah mimpi belaka yang mustahil untuk diwujudkan.
Namaku Supriyadi mengajak para anak bangsa yang hidup di masa sekarang untuk menghargai dan meneruskan perjuangan kemerdekaan yang telah diperoleh Indonesia 64 tahun silam.
Namaku Supriyadi mengambil setting kota Blitar tahun 1940an, dimana tentara Jepang masih merajalela dimana-mana: saat dimana rakyat Indonesia dipaksa bekerja keras (Romusha) dan tidak dapat menikmati hasil pekerjaan mereka sendiri karena harus diserahkan ke tangan Jepang.
Kehidupan moral rakyat semakin merosot akibat beratnya tekanan penjajahan. Kejadian-kejadian tragis disekitarnya memaksa Supriyadi menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri kehidupan keras seorang pencuri, Sari (Naftalia Adhis), yang terus-menerus mencuri untuk membiayai ibunya (Olivia Ompusunggu) yang sedang sakit, dan kehidupan rakyat Indonesia yang harus mengemis dan berkelahi dengan sesamanya untuk mendapatkan sedikit makanan. Semua membuat kemerdekaan negara layaknya sebuah khayalan muluk yang tak tergapai.
Siapa sangka pertemuannya dengan Surya (Bimandri Yosafat) dapat mengubah hati keras Supriyadi yang akhirnya bertekad memperjuangkan kemerdekaan setelah melihat sosok Surya yang penuh dengan harapan. Supriyadi yang sudah muak melihat penindasan bangsanya sendiri dan nyaris putus asa itu menjadi bangkit melihat semangat hidup Surya. Penuh harapan dan selalu berkata “Selama Sang Surya masih bersinar, harapan itu ada”. Bersama dengan rekan-rekan dan para tentara PETA lainnya, mereka bertekad untuk membawa Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan.
Ternyata perjuangan itu tetap tidak semudah yang dibayangkan. Tanpa tekad yang bulat, masalah-masalah yang timbul dapat dengan mudah menghempaskan harapan itu. Mitsutani (Andi Sjaichudin) dan tentara Jepang lainnya yang bertindak semena-mena dan menggagalkan rencana perjuangan kemerdekaan yang dipimpin oleh Surya, ditambah dengan meninggalnya Sari karena dikeroyok rakyat dan sikap Surya yang tiba-tiba berubah, membuat Supriyadi harus menentukan sikapnya dengan tegas.
Akan tetapi disinilah ia menemukan tujuan hidup dan cita-citanya, yaitu untuk merdeka dan meraih kemerdekaan itu bagi seluruh rakyat Indonesia. Kesulitan dan tantangan bukan lagi menjadi penghalang bagi perjuangan gigih seorang Supriyadi, yang kini berjuang dengan harapan. Ia semakin giat berlatih bersama seluruh pasukannya di PETA untuk membela tanah air setelah melihat tindakkan Jepang yang semakin keterlaluan itu. Penindasan dan penderitaan rakyat Indonesia akibat penjajahan bangsa lain harus dihentikan. Rakyat sudah cukup banyak mengalami ketidak-adilan dan penindasan yang terjadi dimana-mana.
Namaku Supriyadi adalah Film indie pertama garapan masyarakat Indonesia di kota Brisbane dan Melbourne, Australia dengan mengambil lokasi syuting di kedua kota tersebut ini menguak sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia melalui perjuangan tentara PETA dan diwarnai dengan pandangan kehidupan rakyat jelata di masa penjajahan tersebut. Melalui berbagai tantangan yang dihadapi dan segala usaha yang dilakukan, bangsa Indonesia mengakui ‘...hanya berkat rahmat Tuhan Yang Maha Esa, dan didorong oleh keinginan luhur rakyat Indonesia...’, akhirnya harapan kemerdekaan itu bukan lagi merupakan sebuah mimpi belaka. Kemerdekaan itu dikumandangkan pada tanggal 17 Agustus 1945.
the license negotiation starts progressing. :).
No comments:
Post a Comment